Hasil Ekspedisi SHOREA (Studi Hutan Observasi dan Eksplorasi) perdana diseminarkan pada hari Minggu, 15 Oktober 2023. Dengan tema “Jelajah Konservasi: Menyingkap Keanekaragaman Aves dan Kumbang di Hutan Lampung”, dipaparkan data hasil dari tiga Tim Ekspedisi SHOREA, yaitu Tim Aves Resort Rawa Bunder (2022), Tim Kumbang Stasiun Penelitian Rawa Bunder, Resort Rawa Bunder (2023), dan Tim Kumbang KPHL Batutegi (2023). Seminar dibuka secara umum (nasional) dengan mekanisme hybrid di Gedung A1, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung dan Zoom Meeting, serta disiarkan melalui Youtube Live Streaming).
Sambutan-sambutan disampaikan oleh Rio Gading, Ketua Umum Himasylva selaku penanggung jawab, Ketua Jurusan Kehutanan yaitu Bapak Dr. Indra Gumay Febryano, S.Hut., M.Si., serta dibuka langsung oleh Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Bapak Dr. Ir. Kuswanta Futas Hidayat, M.P. Pada Seminar Nasional Hasil Ekspedisi SHOREA Himasylva Tahun 2023, Bapak Prof. Dr. Satyawan Pudyatmoko, S.Hut., M.Agr.Sc. (Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem KLHK) hadir secara daring sebagai keynote speaker.


Keanekaragaman Burung
Luas hutan di Provinsi Lampung sekitar 1 juta hektar dari wilayah seluas 3,3 juta hektar. 462 ribu di antaranya adalah kawasan konservasi, yaitu Taman Nasional Way Kambas, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, Cagar Alam Bukit Barisan Selatan, Cagar Alam Kepulauan Krakatau, Kawasan Pelestarian Alam (KPA) Rawa Kandis, dan Tahura Wan Abdul Rachman. Di samping itu, terdapat Hutan Lindung, Hutan Produksi, maupun Hutan Produksi Terbatas. Hal ini tentunya menyimpan keanekaragaman hayati yang sangat tinggi.
Indonesia memiliki biodiversitas jenis burung tertinggi di tingkat regional, setidaknya 1.605 jenis atau 16% diikuti Filipina dan Malaysia. Di Taman Nasional Way Kambas ada 302 jenis tersebar di berbagai habitat. Setelah ekspedisi selama 20 hari dilakukan di Resort Rawa Bunder, didapat 75 spesies burung di habitat Padang Ilalang, Hutan Rawa, dan Hutan Dataran Rendah, seperti yang disampaikan Fadilla Martha Amelia selaku pemateri.
Keanekaragaman Kumbang
Kumbang dalam ordo Coleoptera merupakan kelompok terbesar dalam menyusun 40% biodiversity serangga dan lebih dari 350.000 jenis telah diketahui namanya. Indonesia pun diperkirakan mempunyai 10% dari jenis di dunia.
Hasil ekspedisi keanekaragaman kumbang yang dilakukan di dua lokasi dipaparkan oleh pemateri Lusiana Br Pardede dan Imam Fahrur Rozi. Pengumpulan data menggunakan metode bait trap, light trap, dan jelajah menghasilkan 49 spesies dari 15 famili kumbang di Stasiun Penelitian Rawa Bunder, Resort Rawa Bunder, sedangkan di KPHL Batutegi, Tanggamus yang juga menggunakan metode yellow trap dan pitfall trap didapatkan 29 jenis kumbang.
Keseluruhan data hasil aves dan kumbang dianalisis keanekaragaman, kekayaan, hingga kemerataan jenisnya yang akan dijadikan database dan rekomendasi pengelolaan.

“Kegiatan ekspedisi yang dilakukan oleh adik-adik mahasiswa Universitas Lampung bersama tim yang melakukan inventarisasi aves dan kumbang tentu sangat mendukung pencapaian IKK (Indikator Kinerja Kegiatan) yang harus dilakukan Dirjen KSDAE…,” ucap Dirjen KSDAE dalam bahasan Rencana Strategis Direktorat Jenderal KSDAE 2020 – 2024.
Data spasial atau non-spasial diharapkan dapat di-sharing secara kontinu oleh para akademisi termasuk mahasiswa untuk peningkatan manfaat secara ekologis maupun kesejahteraan masyarakat.
Penulis: Nafa Putri Maharani



Leave a Reply